Dimana ada Kemauan di situ ada Jalan (Kenangan, harapan, dan kenyataan)
Oleh: Cici jang
Zainab adalah seorang gadis sederhana dari keluarga petani, namun karena kemauan dan kecerdasannya ia lulus tes di salah satu sekolah swasta berakreditasi A di Kota bengkulu saat itu. Singkat cerita Zainab dapat menyelesaikan sekolahnya dengan cukup baik. Hal ini dikarenakan Zainab terpengaruh juga pergaulan dengan teman-temannya yang mengakibatkan ia tidak begitu fokus dengan pelajaran.
Setelah menyelesaikan SMK, Zainab melamar pekerjaan ke beberapa tempat dengan harapan di terima bekerja di salah satu tempat usaha dengan salary yang menjanjikan. Tak berapa lama Zainab menerima panggilan kerja, namun ternyata salary yang bakal diterima bahkan dibawah UMR. Zainab akhirnya menerima pekerjaan tersebut karena tidak ada panggilan kerja dari tempat lain. Beberapa tahun berlalu, Zainab berpindah-pindah tempat kerja dengan berbagai pengalaman yang paling banyak tidak menyenangkan, pemilik usaha yang tidak bersahabat, senior yang angkuh dan tidak mau berbagi pengalaman, sampai rekan kerja yang mengadu domba, pokoknya kebanyakan pahit, walau tidak semuanya begitu.
Jangan tanya bagaimana zainab menjalani hari-harinya dengan rasa lapar dan kesedihan, seringkali ia menahan lapar seharian karena harus membagi jatah satu bungkus nasi uduk pagi dengan sore harinya. karena gaji yang diterima harus dibagi-bagi untuk membayar kost, menabung untuk pulang kampung dan oleh-oleh, atau mengirimi orang tua uang walau sedikit.
Tahun berganti, Zainab berpikir keras bagaimana cara memperbaiki kehidupan ekonominya, karena orang tua di kampung juga sedang mengalami kesulitan ekonomi. Akhirnya Zainab memutuskan akan menerima ajakan teman satu kampungnya untuk menikah saja, terbayang kehidupan akan jauh lebih baik karena Andi pemuda kampung yang melamarnya adalah pemuda yang cukup berada di kampungnya, masalah cinta toh nanti akan datang dengan sendirinya. Namun takdir berkata lain, Andi terpaksa harus menikah dengan gadis di kampungnya, karena si gadis ngotot tidak mau pulang dari rumah Andi (di kampung tersebut masih berlaku hukum adat; apabila seorang gadis memaksa menginap di rumah lelaki dan tidak mau pulang, maka secara adat mereka harus menikah). Harapan Zainab pupus sudah, namun ia tidak begitu bersedih dengan hal tersebut karena Andi memang bukan lelaki impiannya. Lagi pula mereka jarang sekali bertemu dan Zainab sudah memutuskan hijrah dan berhijab sebelum kejadian tersebut. Justru hal ini membuat tekad Zainab untuk berhijrah dan menjadi wanita sholihah yang menjaga hijab dan dirinya semakin kuat.
Mengikuti kajian mingguan menambah wawasan dan ilmu keIslaman membuat Zainab haus akan ilmu pengetahuan, keinginannya untuk kuliah muncul kembali apalagi cita-cita sebenarnya adalah menjadi seorang guru. Keinginannya untuk kuliah disampaikan kepada orang tua, dan gayungpun bersambut. Namun kembali lagi masalah biaya kuliah menjadi hambatan. Pepatah mengatakan "Dimana ada kemauan maka di sana ada jalan", itulah yang terjadi dan beruntungnya ada teman yang mau menampungnya tinggal di tempat kursus, biaya masuk kuliahpun dibantu oleh orang tua dan kakak Zainab, dan tahun berikutnya hingga tamat kuliah, Zainab mengurus bea siswa. Hari-hari dijalani dengan lebih semangat untuk menyelesaikan kuliah. Untuk biaya sehari-hari Zainab membantu mengajar les dan TPQ di tempat kursus dan membuat makanan kecil untuk di jual. Kehidupan dirasa mulai membaik.
Empat tahun kuliah, Zainab akhirnya wisuda dan bekerja di Sebuah yayasan ternama di kota. Kehidupan semakin membaik dan di sini juga Zainab bertemu jodoh laki-laki yang baik dan sholeh (Zainab terlambat menikah teman; usia 32 tahun). Tidak berapa lama kemudian sang suami lulus PNS. Sekarang Zainab dikaruniahi 3 orang putra.
Sekarang Zainab hidup dengan bahagia, apalagi di kelilingi orang-orang baik yang berorientasi positif, ia sangat bersyukur dengan semua liku kehidupan yang telah ia jalani, dan berterima kasih kepada semua orang yang telah hadir mewarnai kehidupannya. ada harapan yang masih sangat banyak dalam dirinya, diantaranya: memberikan pendidikan yang layak dan berkualitas untuk buah hatinya, melaksanakan rukun Islam yang ke-5 yaitu naik haji dan membawa orang tua juga, menghapal Al-Qur'an dan menjadikan anak-anak dan keluarganya penghapal Qur'an, membangun yayasan sosial dan pendidikan, menjadi penulis tentunya, menjadi motivator, ketika pensiun ada rancangan-rancangan yang sudah ia buat...dll, harapan terbesarnya adalah ridho Allah SWT dan Rasul-Nya, tentunya masuk surga. Aamiin ya Rabbal'alamin...
Zainab mengambil hikmah yang sangat banyak dari liku-liku kehidupannya, salah satu yang paling penting adalah "Bukan ekonomi yang harus di perbaiki terlebih dahulu, tapi kedekatan dengan sang penciptalah yang akan memperbaiki semuanya"... Allahu akbar. Semoga menginspirasi
Sepenggal kisah anak rantau
Cici Jang larut dalam kenangan di akhir tahun 2020
Bengkulu, 31 Desember 2020

Baru pertama kali selesai menulis sebuah kisah dari awal sampai akhir, masih banyak kekurangan di sana sini, terima kasih teman-teman komunitas yeng telah memberikan motivasi untuk menulis.
ReplyDeleteLuar biasa bu kisah hidup sang tokoh...
ReplyDeleteTerima kasih sudah mampir bu Tini.
DeleteZainab memgingatku pada kisah ayukku cici j.
ReplyDeleteSemangat sista . Mantul 🥰
Manttapp,,
ReplyDeleteTerima kasih bu Yusni
DeleteParagraf terakhir berkesan kedekatan sama sang penciptalah yang akan memperbaiki semuanya.
ReplyDeleteTerima kasih sudah mampir bu..
DeleteTerhanyut dalam kalimat "Bukan ekonomi yang harus di perbaiki terlebih dahulu, tapi kedekatan dengan sang penciptalah yang akan memperbaiki semuanya"
ReplyDeleteIya pak, terima kasih
DeleteMantaapks itu yunda..kisah itu mengingatkanku pada seorang yg ku kenal..bagus yunda.. Semangaat
ReplyDeleteLuar biasa Zainab.
ReplyDeleteKisahnya merasuk di hai para pembaca.
Terima kasih sudah mampir pak Indra
Delete